Catatan Kecil

Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penelitian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Juli 2008

Kuisioner EQ, SQ

Beberapa orang mahasiswa Program Studi Manajemen bermaksud melakukan penelitian tentang kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual untuk skripsi mereka. Di bawah ini tersedia bahan baku instrumen/kuisioner tentang kedua hal tersebut. Hanya saja para mahasiswa yang ingin menggunakan perlu melakukan pengujian reliabilitas dan validitas instrumen tersebut agar benar-benar mampu mengukur kedua variabel yakni EQ dan SQ untuk penelitiannya. Instrumen Kecerdasan Emosional Saya memiliki kepercayaan diri yang tinggi Saya selalu sadar baik buruknya apa yang saya lakukan Saya cukup tegas terhadap diri sendiri Saya tidak selalu tergantung kepada orang lain Saya suka bekerja sama dengan orang lain Dalam mengambil tindakan, saya selalu mempertimbangkan perasaan orang lain Saya suka membantu orang lain yang sedang kesusahan Saya selalu bisa menerima dan menghargai pendapat orang lain Saya suka mendengarkan keluhan orang lain dengan penuh perhatian Saya bisa memahami kesalahan orang lain dan memaafkannya Saya selalu bersikap jujur kepada orang lain Saya bisa menerima apapun masalah yang terjadi dalam hidup saya Saya mampu memecahkan masalah dengan baik Saya dapat dengan mudah mengatasi rasa stress Saya tidak mudah putus asa atau kecewa jika apa yang saya rencanakan berbeda dengan apa yang saya harapkan Saya selalu optimis dengan kehidupan ini Saya yakin di masa depan saya akan bisa sukses Saya bisa menikmati hidup ini dengan apa adanya Instrumen Kecerdasan Spiritual Saya selalu berdo’a untuk memohon ampunan kepada Allah Apa yang saya lakukan selalu sesuai dengan ajaran Agama Islam Bagi saya keimanan adalah penting bagi saya Ketika mengalami masalah hidup, saya selalu mengadu kepada Allah Saya jarang meninggalkan ibadah sholat Saya selalu merasa bahwa diri ini berharga Saya merasakan ketenangan ketika saya selesai beribadah Saya percaya tentang adanya surga dan neraka Saya sangat suka mendengar ceramah-ceramah dari ustad Saya selalu bersikap dan bertutur kata yang baik kepada orang lain Saya selalu membaca kita suci Al-Qur’an Saya selalu mengajak orang lain berbuat baik Saya selalu menghadiri pengajian atau ceramah-ceramah agama Saya selalu merasakan kehadiran Allah dalam hidup saya Saya selalu pergi ke mesjid untuk sholat Saya suka membantu orang lain yang kesusahan Saya tidak percaya kepada kekuatan jimat atau mantera-mantera Saya tidak suka iri kepada orang lain Saya selalu berusaha untuk memperbaiki ibadah saya Saya selalu membaca buku-buku agama


Jumat, 13 Juni 2008

Menjadi Manusia baru dengan Skripsi

Belakangan banyak mahasiswa mengeluh tentang semakin sulitnya proses menyusun tugas akhir skripsi di Program Studi Manajemen UMSU. Untuk mengajukan judul saja mahasiswa harus membuat surat pernyataan tentang originalitas penelitian dan kebenaran lokasi penelitian di atas kertas bermaterai, membawa referensi jurnal-jurnal penelitian, menunjukkan persetujuan dari perusahaan dengan bukti stempel perusahaan di atas formulir pengajuan judul, dan segala hal yang memusingkan mahasiswa. Sepertinya, skripsi menentukan hidup matinya mahasiswa, kalau tidak ikut prosedur, maka mahasiswa bisa tamat riwayatnya. Sebagian mahasiswa mengeluh proses ini terlalu berat, sebagian menganggap skripsi adalah "momok" atau "hantu" yang menakutkan. Memang belakang program studi membuat kebijakan seperti di atas, kebijakan terakhir adalah membuat surat pernyataan di atas kertas bermaterai. Sebenarnya hal ini tidak perlu dilakukan jika mahasiswa mengikuti prosedur yang telah ada selama ini. Hanya saja belakangan ditemui kasus adanya mahasiswa program studi lain yang memalsukan kop surat perusahaan sekaligus stempelnya. Tentu saja ini perbuatan tercela. Mengantisipasi terjadinya kasus tersebut maka seluruh program studi sepakat untuk memberlakukan peraturan yang ketat dan terkesan berlebihan. Sebenarnya hal tersebut adalah wajar-wajar saja, untuk kebaikan mahasiswa sendiri dalam proses pembelajaran untuk bertindak benar, berlaku jujur, serius, dan bekerja keras dalam meraih sesuatu hal, termasuk meraih gelar kesarjanaannya. Mengapa dari dulu hingga sekarang mahasiswa selalu mengalami permasalahan dalam menyelesaikan tugas akhir. Skripsi dianggap momok, hantu yang menakutkan. Skripsi cukup mampu menguras tenaga, pikiran, waktu, dan juga biaya. Skripsi dianggap sebagai sesuatu yang seolah-olah terlalu sakral. Selain kasus-kasus di atas, mahasiswa kembali memiliki permasalahan seperti kasus-kasus sulitnya proses bimbingan skripsi kepada dosen. Banyak dosen terlalu kritis terhadap penelitian/skripsi mahasiswa, mereka harus melakukan revisi berulang-ulang karena skripsinya belum sempurna. Ada dosen yang rajin membatik setiap halaman skripsi mahasiswa dengan coretan-coretan yang kadang-kadang disertai kalimat-kalimat emosional. Beberapa dosen sibuk dengan statistik yang njelimet membuat pikiran terkuras. Ada juga kasus dosen yang sulit untuk ditemui di kampus karena banyak bisnis di luar atau penuh waktunya untuk mengajar di berbagai universitas lain, anehnya mereka tidak bersedia ditemui di rumah. Lalu harus dimana bertemu dan bagaimana bersikap? Belum selesai sampai di situ, permasalahan terakhir adalah proses sidang meja hijau. Sidang meja hijau seolah-olah berubah menjadi ajang pembantaian. Beberapa mahasiswa mengalami shock, pingsan, menangis, tubuh berkeringat dingin. Sebagian kecil gagal dalam ujian dan harus mengikuti sidang ulang. Namun, ada hikmah di sebalik semua proses penelitian dan menyelesaikan skripsi. Skripsi adalah proses pembelajaran untuk melatih otak (intelektual) dan emosional (psikologis), seperti:
  • Melatih berpikir ilmiah
  • Melatih menulis
  • Melatih kejujuran
  • Melatih kerja keras
  • Melatih kedisiplinan
  • Melatih kesabaran
Pertama, melatih berpikir ilmiah. Karena skripsi merupakan program penelitian ilmiah, maka dengan adanya skripsi maka mahasiswa diajak untuk belajar bagaimana berpikir ilmiah yakni rasional (masuk akal), empiris (berdasar pada fakta), dan sistematis (bertahap). Bayangkan seorang mahasiswa jika memiliki nilai-nilai seperti itu di dalam dirinya, maka ia akan menjadi seorang pengambil keputusan yang hebat, misalnya ketika bekerja seusai menyelesaikan pendidikan dan menjadi pimpinan atau manager di tempat ia bekerja. Karena sudah dibiasakan berproses ilmiah maka tidak ada masalah baginya untuk mengambil keputusan untuk sesuatu hal. Kedua, melatih menulis. Aktivitas menulis, mengkonsep, tidak bisa terhindar dari diri kita. Begitu juga saat berada di dunia kerja, entah itu sebagai atasan yang selalu mengkonsep rencana-rencana strategis bagi organisasinya, atau sebagai bawahan yang kerap mengikuti instruksi atau perintah bawahan untuk mengkonsep sesuatu untuk keperluan tugas. Bayangkan, jika saat menjadi mahasiswa tidak pernah dibiasakan menulis, maka kegiatan konsep-mengkonsep akan menjadi permasalahan yang cukup berarti. Ketiga, melatih kejujuran. Proses skripsi adalah proses pembelajaran kejujuran. Mengumpulkan data harus jujur, mengolah data harus jujur, demikian juga menganalisis data. Ada praktik-praktik bahwa skripsi mahasiswa tidak dirancang dengan keringat mereka sendiri. Mereka datang ke rental-rental komputer dan membayar dengan sejumlah uang tertentu. Ini artinya mahasiswa tidak bertindak jujur. Skripsi adalah milik diri si mahasiswa sendiri, maka yang mengerjakannyapun harus sendiri. Sering ada sindiran kepada mahasiswa, nanti kalau Anda sudah menikah dan pengen punya anak, bukankah kita yang berproduksi sendiri? Tidak minta orang lain untuk membuatkannya? Sindirannya terdengar sadis memang. Ketiga, melatih kerja keras. Orang-orang yang sukses di dunia ini adalah mereka yang bekerja keras. Hampir tidak pernah kita mendengar ada orang yang malas tapi sukses dalam kehidupannya. Skripsi adalah proses untuk belajar bekerja keras. Seorang mahasiswa harus meluangkat waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mengumpulkan referensi, datang ke lokasi penelitian, mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis data, bimbingan, dan seterusnya. Hanya mahasiswa-mahasiswa yang punya keinginan keras yang bisa selesai dengan baik dan memperoleh nilai yang baik pula. Bayangkan bagaimana jika seorang mahasiswa hanya malas-malasan dikost, menonton TV, sibuk keluyuran atau pacaran, tetapi malas untuk mengerjakan tugas akhirnya, mereka akan tertinggal dibanding dengan rekan-rekannya yang bekerja keras memanfaatkan waktu mereka. Kadang-kadang ada mahasiswa yang tidak memiliki jiwa berjuang, gigih, dan mau berkorban. Mereka hanya berharap pertolongan orang lain, tidak memiliki keyakinan jika dirinya pun bisa melakukan. Keempat, melatih kedisiplinan. Orang yang sukses adalah orang yang disiplin. Perusahaan-perusahaan besar dan profesional membutuhkan orang-orang seperti ini. Seandainya perusahaan tidak menerapkan disiplin, maka pekerjaan akan terbengkalai, target profit tidak akan tercapai, perusahaan tidak mampu membayar kompensasi yang layak kepada karyawannya. Lalu mengapa skripsi dikaitkan dengan kedisiplinan? Proses mengerjakan skripsi memerlukan kedisiplinan tinggi. Kita harus pandai merencanakan waktu dan taat kepada rencana yang telah dibuat. Misalnya kapan harus mengajukan judul, ke perusahaan, seminar, dan bertemu dengan dosen. Pada saat selesai bimbingan dengan dosen, kita perlu memaksanakan diri untuk segera menyempurnakan hasil koreksi dosen, bukannya memperlambat-lambat proses penyempurnaan yang hanya akan memperlambat waktu kita untuk bisa mengikuti sidang meja hijau dan wisuda sarjana. Melatih kesabaran. Kadang-kadang proses skripsi cukup menyita emosional, seperti timbulnya stress karena menerima amarah dari dosen, kritisnya dosen dalam membimbing, belum lagi
jika mengalami kesulitan dalam menjumpai dosen. Sebagai seorang manusia normal maka akan timbul feedback berupa benci, marah, dendam, dan perilaku psikologis lainnya kepada sang dosen. Namun tentu saja sebagai murid perlu patuh dan taat kepada sang dosen. Kita perlu bersikap bagaimana agar sang dosen tidak marah kepada kita saat berbicara kepada mereka, menemui, menelpon, atau memohon waktu kepadanya untuk bisa membimbing skripsi. Bagi sebagian dosen yang memiliki frekuensi kesibukan cukup tinggi, tentu akan mudah terpancing emosinya. Mahasiswa perlu memahami hal tersebut. Anggap saja angin lalu jika dosen meluapkan emosi. Paling-paling hanya sebatas itu saja, jarang ditemui dosen membawa emosinya sepanjang waktu, ia mudah melupakan kejadian sebelumnya. Hari-hari mendatang ia akan bersikap normal kembali. Banyak kemanfaatan lain dari skripsi yang tidak mungkin diurai satu persatu. Contoh-contoh di atas adalah proses pembelajaran saat berada dalam proses skripsi. Jika skripsi benar-benar dikerjakan dengan kemampuan diri sendiri, mengikuti proses dari awal hingga akhir dengan benar, maka setelah skripsi selesai, kita akan terlahir menjadi seorang "manusia baru". Ya, manusia yang ilmiah, mampu menulis dan mengkonsep, jujur, pekerja keras, disiplin, dan sabar, serta perilaku-perilaku positif lain. Semua itu adalah bekal untuk menjadi orang sukses di masa depan, baik di dunia kerja maupun kehidupan secara umum.

Jumat, 30 Mei 2008

Jumlah Indikator dalam Sebuah Variabel

Suplemen Mata Kuliah Penelitian Manajemen, 2008
Dalam penelitian ilmu-ilmu eksakta, instrumen untuk mengukur sesuatu sangat mudah ditemukan, misalnya instrumen untuk mengukur berat bisa menggunakan neraca, instrumen mengukur suhu dapat menggunakan termometer, dan sebagainya. Namun dalam ilmu sosial, tidak ada alat ukur seperti di dalam ilmu eksakta tersebut. Untuk itu jika peneliti ilmu sosial bermaksud mengukur atau menilai sesuatu, maka harus mendesain instrumen sendiri, misalnya angket. Ketika kita bermaksud menyusun instrumen penelitian seperti angket, maka cara termudah adalah terlebih dahulu menetapkan indikator-indikator dari suatu variabel. Makna indikator ini bisa juga diartikan sebagai kriteria-kriteria atau ukuran-ukuran untuk menilai sesuatu variabel penelitian. Ada pertanyaan (Yevita yang rajin banget nanya membuat saya jadi rajin nulis, hehehe, makasih), apakah sebuah variabel harus terdiri dari beberapa indikator? Jawabnya, seharusnya begitu. Saya akan memberikan sebuah contoh humoris tapi logis. Misalnya Yevita ingin menilai seorang cowok ganteng atau tidak (variabelnya adalah kegantengan), maka indikatornya bisa banyak bukan? Anggap saja contoh-contoh di bawah ini adalah indikator/kriteria dari ganteng atau tidaknya seseorang, maka bisa dilihat dari: - Matanya - Hidungnya - Tinggi badannya - Bentuk bodynya - Warna kulitnya - Model rambutnya - dan lain-lain (benar gak sih orang ganteng dilihat dari hal-hal tersebut? Tau ah, wong saya bukan cewek) Nah, tentunya semua indikator/kriteria di atas kamu jadikan sebagai alat ukur untuk mengukur kegantengan cowok tersebut, bukannya satu atau dua, tapi semua. Bayangkan saja, kalau indikator yang kita pakai hanyalah satu, misalnya "hidung" saja, kebetulan sang cowok hidungnya memang mancung, lantas apakah kita sudah bisa dan berani menyimpulkan kalau si cowok adalah ganteng? Bisa saja hidungnya mancung, tapi lihat dulu yang lain, bagaimana kalau matanya bengkak sebelah, badannya semekot (semeter kotor), atau bodynya pendek dan gendut. Apakah dia kita katakan ganteng? Hahahhahaha. Jadi kesimpulannya, indikator harus lebih dari satu jika kita bermaksud untuk mengukur suatu variabel, agar kita memang benar-benar mampu mengukur sedetail mungkin tentang variabel tersebut, dan agar dapat menarik kesimpulan bagaimana sebenarnya kondisi/kualitas dari variabel itu. Belum cukup sampai di situ, sebenarnya setiap item indikator masih bisa lagi kita rinci menjadi beberapa sub-sub indikator, dan dari setiap subindikator dapat disusun menjadi beberapa item pertanyaan di dalam angket. Namun memang hal tersebut pekerjaan yang sulit. Kita harus berkonsultasi dengan ahli, pembimbing, membaca referensi, atau melihat instrumen angket miliki orang lain yang sudah pernah digunakannya. Jika belum mampu melakukan hal demikian, bolehlah untuk tahap pembelajaran, setiap item indikator disusun menjadi satu atau dua pertanyaan angket, asal saja pertanyaan angketnya tidak memiliki makna yang berulang. Contoh pengulangan pertanyaan untuk suatu indikator (misalnya indikatornya hidung), bisa dilihat dalam ilustrasi berikut ini: 1. Anda memiliki hidung yang mancung? 2. Hidung Anda tidak pesek? Kedua pertanyaan tersebut sama saja bukan? Sama-sama mempertanyakan kondisi hidung yang dimiliki seseorang mancung atau tidak. Bagusnya pertanyaan tersebut dimodifikasi lagi, contohnya: 1. Anda memiliki hidung yang mancung? 2. Bulu hidung Anda tidak selalu menjulur keluar? (hahahahha) Nah, kedua pertanyaan tersebut berbeda makna, yang pertama mempertanyakan kemancungan hidung, yang kedua mempertanyakan bulu hidung, namun tetap mempertanyakan tentang seputar hidung bukan? Baiklah, rajin-rajin diskusi dengan saya Yevita, biar saya tetap rajin belajar dan buka-buka referensi lagi. Kalau tidak ada yang berdiskusi, otak saya bisa jadi beku. Boleh juga diinformasikan dengan teman-teman Anda untuk berdiskusi dengan saya. Tapi jangan dianggap saya dosen yang pintar ya, wong saya juga masih tetap belajar,walau sudah tidak kuliah lagi.

Kamis, 22 Mei 2008

Consumer Decision Model (CDM)

Suplemen Mata Kuliah Penelitian Manajemen, 2008
Seorang mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Telkom di Bandung "Yevita" mempertanyakan tentang Consumer Decision Model (CDM). Berikut ini pertanyaan Yevita: 1. Apakah pengukuran efektifitas iklan dengan cdm ini hanya berlaku untuk iklan barang saja? Atau juga bisa untuk jasa karena kebetulan saya kuliah di ITT Telkom yang lebih ke jasa telekomunikasi? 2. Pada cdm ini ada 6 variabel, bagaimanakah bentuk dari kuesioner untuk penelitian ini, sehingga bisa mengukur efektifitas iklan berdasarkan 6 variabel tersebut? Wah, saya heran juga, kenapa pertanyaan itu ke saya ya, padahal beliau membaca CDM pada tulisan teman saya di salah satu edisi di Jurnal Ilmiah Manajemen & Bisnis. Mungkin Saudara Yevita menggangap saya pakar (hehe, semoga saya jadi pakar beneran. Di Medan pakar=persatuan anak-anak karo). Namun demikian, walau bukan tulisan saya, agak berdosa rasanya kalau pertanyaan tersebut tidak dijawab, apalagi informasi tersebut memang dibutuhkan tidak hanya bagi Yevita, namun juga bagi pembaca lainnya. Berikut ini jawaban dari kedua pertanyaan di atas: 1. Pengukuran efektivitas iklan dengan CDM berlaku general, baik untuk pengukuran iklan produk barang maupun jasa. Dengan demikian jika seseorang bermaksud meneliti perilaku konsumen akibat iklan dari suatu produk jasa telekomunikasi seperti produk-produk Telkom, dapat menggunakan model tersebut 2. Di dalam Consumer Decision Model (CDM) Howard (Ade Gunawan, 2003, Jurnal Ilmiah Manajemen & Bisnis, Vol. 04 No.01), ada enam variabel yang saling berhubungan (inrelatted variables) di dalam CDM tersebut, antara lain: a). Pesan Iklan (information); b). Pengenalan Merek (Brand Recognition);c). Keyakinan Konsumen (Attitude); d). Sikap Konsumen (Confidence), e). Niat Beli (Intention), dan f). Pembeli Nyata (Purchase). Berdasarkan variabel-variabel di dalam CDM tersebut kita bisa mendesain instrumen penelitian berupa angket. Cara yang mudah untuk mendesain angket bisa mengikuti contoh di dalam tabel di bawah. Pertama, kita menentukan apa variabelnya. Kedua, menentukan indikator masing-masing variabel, cara yang dapat dilakukan adalah merujuk teori. Ketiga, mengembangkan item-item angket dari setiap indikator yang ada, jumlah item adalah relatif, tergantung kepada kemampuan peneliti untuk mengembangkannya, hal yang perlu diperhatikan adalah tidak menyusun pertanyaan ganda/berulang di dalam angket.

Variabel

Indikator

Item angket

Pesan Iklan

1 informatif

1.

2. dst.

2 attraktif

3 profesional

Pengenalan Merek

1

2

3 dst

Keyakinan Konsumen

1

2

3 dst

Sikap Konsumen

1

2

3 dst

Niat Beli

1

2

3 dst

Pembeli Nyata/keputusan membeli

1

2

3 dst




Minggu, 23 Desember 2007

Judul dan Masalah Penelitian

Banyak mahasiswa datang kepada saya, “Pak, saya hendak mengajukan judul”. Lho, mengapa harus judul dahulu? Apa permasalahan yang telah ditemukan, atau setidaknya gejala masalah apa yang telah diketahui? Menetapkan judul adalah aktivitas yang gampang dilakukan ketika permasalahan sudah diketahui dan ditetapkan.


Sekarang, langkah pertama adalah mengeksplorasi permasalahan. Misalnya kita pergi ke lokasi penelitian yang dimaksud, entah itu lingkungan perusahaan, masyarakat, dan sebagainya. Kita bisa melakukan pengamatan, wawancara, mengamati dokumen, atau menyebar kuisioner sebagai langkah untuk menemukan permasalahan.


Mungkin saja permasalahan yang ditemukan sangat banyak, misalnya ada gejala bahwa kinerja karyawan buruk, disiplin kerja karyawan rendah, perputaran/keluar masuk karyawan tinggi, kepuasan kerja karyawan rendah, dan sebagainya.


Apakah semua permasalahan tersebut harus diteliti? Jawabannya terserah kepada si peneliti. Namun bagi mahasiswa S1, yang baru belajar meneliti, mungkin bisa mengambil hanya satu permasalahan yang ada. Sebagai contoh ditetapkanlah kinerja sebagai permasalahan utama penelitian. Dengan kata lain, timbullah suatu pertanyaan mengapa kinerja karyawan rendah?


Jawabannya bisa bermacam-macam. Agar mudah, kita perlu menelaah referensi, bisa dari buku teks, jurnal, penelitian-penelitian seperti skripsi, tesis, atau disertasi. Temukan di sumber-sumber tersebut, faktor apa saja yang menyebabkan tinggi rendahnya kinerja karyawan. Misalnya dari sebuah buku teks, dinyatakan bahwa motivasi, kemampuan, dan dukungan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan.


Langkah selanjutnya adalah menentukan, apakah seluruh faktor tersebut ingin diteliti atau tidak, atau hanya dibatasi pada satu atau dua faktor saja? Hal ini kembali kepada peneliti. Misalnya peneliti hanya bermaksud untuk mengkaji satu faktor saja, yakni motivasi.


Nah, sampai tahap ini sudah jelas apa permasalahan sebenarnya yang hendak kita kaji, yakni kinerja karyawan yang dipengaruhi oleh motivasi. Untuk menyusunnya menjadi sebuah judul penelitian adalah pekerjaan gampang. Di bawah ini ada beberapa alternatif judul penelitian dari permasalahan yang ada, antara lain:


  • - Pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan
  • - Dampak motivasi terhadap kinerja karyawan
  • - Analisis kinerja karyawan akibat motivasi
  • - Analisis motivasi dan pengaruhnya terhadap kinerja karyawan
  • - Peranan motivasi terhadap kinerja karyawan
  • - Hubungan motivasi dengan kinerja karyawan
  • - Dan sebagainya


Alternatif judul mana yang paling baik? Terserah peneliti judul mana yang hendak diteliti, semuanya bisa dijadikan sebagai judul. Namun perlu diperhatikan dalam menyusun sebuah judul penelitian, diantaranya harus mampu menunjukkan jenis penelitian, variabel, objek, dan lokasi penelitian. Misalnya ”Dampak motivasi terhadap kinerja karyawan PT. X Medan”


  • - Jenis penelitian: dampak menunjukkan pendekatan penelitian asosiatif (biasanya kata-kata yang digunakan untuk pendekatan asosiatif adalah dampak, hubungan, pengaruh, peranan; sedangkan perbedaan, perbandingan, umumnya digunakan untuk pendekatan penelitian komparatif.
  • - Variabel: motivasi dan kinerja
  • - Objek penelitian: karyawan
  • - Lokasi penelitian: PT.X Medan


Artikel mendatang saya akan berupaya untuk menulis tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

 
Copyright © 2014 Azuar Juliandi. Designed by OddThemes