Catatan Kecil

Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2008

Pelajaran Kecil dari Sang Profesor

Suatu saat di akhir Agustus 2008 saya diberi berkesempatan berkunjung ke Penang dalam rangka berobat ke salah satu rumah sakit di sana. Setelah selesai diagnosis, keesokan harinya saya berkunjung ke University Sains Malaysia (USM) menemani rekan yang sedang mengambil program Ph.D. Hitung-hitung juga sebagai studi banding untuk persiapan kuliah S3 di masa depan.

Kampus yang luar biasa bagus, sejuk, berbukit-bukit, dan tertata dengan desain yang benar-benar direncanakan dengan baik. Sekilas tampak seperti deretan vila-vila atau kumpulan hotel-hotel di daerah pegunungan. Mengenai luasnya? Wah, mungkin 10 kali luas kampus USU di Medan, atau mungkin 50 kali kampus UMSU?.

Awalnya kami masuk ke ruangan salah seorang dosen pembimbing disertasi rekan saya tersebut, seorang Doktor. Beliau menyambut dengan ramah dan penuh kekeluargaan, orangnya cukup bersahaja dan menunjukkan kesalehan di wajahnya. Tak ada sedikitpun menunjukkan keakuan dan rasa sombongnya. Di akhir pertemuan sang Doktor memberikan banyak foto copy jurnal-jurnal dan buku yang diberikannya secara gratis, padahal lembarannya cukup tebal.

Selesai bimbingan, rekan saya “D” masuk ke dalam ruang seminar yang berbatas dinding kaca. Di dalamnya penuh dengan mahasiswa yang sedang kuliah S2 dan S3, mereka bermaksud mendengarkan ceramah dari seorang Professor. Saya menunggu dan memperhatikan dari sebalik dinding kaca dengan penuh rasa ketertarikan melihat nuansa ilmiah tersebut. Akhirnya saya diminta sang professor masuk ke ruangan untuk bergabung dan memperkenalkan diri kepada seluruh audiens.

Awalnya saya salah tingkah namun memberanikan diri berdiri dan berbicara singkat tentang maksud kedatangan saya di tengah-tengah mereka. Kemudian professor memulai kuliah dengan antusias sambil sesekali bercanda untuk mengimbangi suasana formal. Waktu dilalui dengan presentasi proposal penelitian mahasiswa serta diselingi dengan berdiskusi dengan sesama mereka.

Usai kuliah kami menunaikan shalat Jum’at di mesjid kampus yang cukup luas. Begitu sholat selesai sang professor mengajak kami untuk makan siang bersama di sebuah restaurant dengan beberapa orang mahasiswa S2 dan S3 (sekitar 10 orang), termasuk saya. Sang professor mengatakan bahwa ia sengaja mentraktir kami karena baru saja ada mahasiswanya yang lulus Doktor.

Wah, saya agak bingung bercampur kagum. Bagaimana tidak, sering terdengar di Indonesia mahasiswalah yang selalu mengajak makan dosen-dosennya bila sudah selesai sidang meja hijau. Tapi kali ini berbeda, di negeri tetangga ini saya menemui dosen yang perilakunya 180 derajat berbeda dengan di tanah air.

Saat makan siang akan dimulai professor meminta salah seorang Doktor untuk membacakan do’a makan. Saya ikut berdo’a di dalam hati. Hal yang benar-benar menarik, suasana yang hampir dan memang belum pernah saya temui di kalangan muslim ketika berada di rumah makan di Medan, saya hanya pernah menyaksikan beberapa kali suasana ini dilakukan oleh orang-orang yang beragama kristen. Ada yang salah di kita? Think about it.

Ada hal yang menggelikan namun dalam hati saya aminkan. Saat selesai makan masih ada tersisa 2 potong kecil apel di piring buah. Professor melihat dan langsung menyuruh 2 siswanya untuk menghabiskan apel tersebut. Sang siswa terpaksa memakannya, namun kembali dihardik oleh sang professor “makan tak boleh berdiri, harus duduk”.

Belakangan saya dengar informasi bahwa apabila makan sang professor tak pernah menyisakan makanan di piringnya, tidak sebutir nasipun tertinggal. Bahkan ia menjilati jemarinya untuk memastikan bahwa tidak ada nasi yang tersisa sedikitpun.

Wah, cukup disiplin dan taat kepada ajaran agama juga benar menurut kesehatan. Kebiasaan yang telah banyak dilupakan oleh kita ketika makan, tak berdo’a, menyisakan makanan di piring, makan dan minum sambil berdiri. Saya jadi berpikir, bagaimana kita mampu melakukan ibadah-ibadah besar, jika hal-hal yang dianggap sepele namun ada aturannya dalam agama selalu kita langgar. Mungkinkah kita jadi muslim yang kaffah? Sang profesor tidak hanya terbiasa dengan nilai-nilai ilmiah atau keilmuan belaka, namun ia juga tetap menjaga nilai-nilai agama yang perlu kembali diajarkan kepada mahasiswanya yang mungkin saja sudah dilupakan.

Pelajaran sesaat dari professor yang cukup menyadarkan kealpaan yang sudah mendarah daging.

Jumat, 13 Juni 2008

Keraslah kepada Diri Sendiri, maka Kehidupan akan Lembut kepadamu

Saat sedang menuju ke kampus untuk menjalankan tugas "mencerdaskan anak bangsa" saya mendengarkan sebuah dialog yang cukup menyentuh emosional dari sebuah stasiun radio swasta. Salah satu ungkapan yang menyentuh tersebut adalah "Keraslah terhadap diri Anda hari ini, maka esok hari kehidupan akan bersikap lemah lembut kepada Anda. Lembutlah kepada diri Anda hari ini, maka esok hari kehidupan akan bersikap keras terhadap Anda".




Ya benar, kata-kata filosofis itu sulit terbantahkan. Jika hari ini kita keras terhadap diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang positif, maka esok hari kita akan mendapatkan hasil yang menyenangkan. Coba renungkan:

Jika saja saat sekolah dulu kita memaksakan diri untuk belajar keras maka hari ini kita tidak akan kuliah di perguruan tinggi swasta, mungkin kita berada di UI, UGM, atau bahkan di Harvard University. Tapi sudah terlanjur, kita hanya bermalas-malasan dalam belajar, kini harus rela untuk berada di tempat kita sekarang menuntut ilmu, uang SPP mahal, buku-buku harus membeli, sudah selesai menjadi seorang sarjana harus melamar ke sana ke mari. Bandingkan dengan mereka yang dulu belajar serius, sekolah di perguruan tinggi negeri atau di luar negeri, SPP murah bahkan gratis karena banyak tersedia beasiswa, buku-buku tinggal meminjam di perpustakaan karena koleksinya banyak dan beragam sehingga tidak perlu membeli, sudah selesai menjadi sarjana tidak perlu ke sana kemari karena banyak perusahaan yang meminta dan memberikan gaji yang layak. Kehidupan menjadi bersikap lemah lembut kepada mereka.

Jika saja hari ini kita keras kepada diri sendiri untuk selalu menjaga kesehatan, selalu berolah raga, mengkonsumsi makanan-makanan sehat, menjaga waktu istirahat, maka esok hari di waktu tua, kita tidak mengalami apa yang dialami kebanyakan orang saat ini, menderita penyakit jantung, darah tinggi, asam urat, kanker, dan penyakit modern lainnya. Kembali nyata, bahwa kehidupan akan bersikap lemah lembut jika kita keras, dan bersikap keras jika hari ini kita terlalu lembut kepada diri sendiri.
Andai saja hari ini kita keras terhadap diri sendiri untuk menyusun skripsi dengan kemampuan diri sendiri, maka esok hari di saat kita bekerja kita tidak terkejut dengan kehidupan di dunia kerja, seperti konsep-mengkonsep, kerja keras, mengejar target. Orang-orang yang terbiasa melakukannya akan sukses dalam berkarir, berpenghasilan besar, dan dengan penghasilannya ia mampu memenuhi kehidupan layak, menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan berkualitas, liburan setiap akhir pekan. Betapa menyenangkan, kehidupan begitu menjadi lemah lembut kepada kita.

Andai saja dulu orang-orang memelihara lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang hutan, tidak merusak bumi, maka hari ini tidak akan ada banjir seperti terlihat dimana-mana, tidak ada Global Warning yang dikhawatirkan dunia. Kini sudah terlanjur, alam ini menjadi sangat keras kepada kita.

Andai saja hari ini kita bertekad keras untuk membantu orang lain dan sesama yang sedang kesusahan dengan rasa tanpa pamrih, maka esok hari orang lain yang akan membantu menepiskan kesulitan yang kita alami. Kehidupan menjadi tidak memberatkan karena ada orang lain yang perduli.

Andai saja hari ini kita begitu keras menjaga ibadah, sholat, berpuasa, dan ibadah-ibadah wajib lainnya, maka esok hari kita akan berada di surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, ditemani bidadari yang rupawan, dan kehidupan menyenangkan lainnya yang belum terlintas di hari atau terpikirkan di kepala. Mengesankan, dengan kerasnya hari ini, kehidupan esok di akhirat begitu lembutnya menyapa kita.

Sayangnya kita tidak bersedia untuk bersikap keras terhadap diri sendiri (mungkin termasuk saya), sehingga kehidupan ini menjadi bersikap keras kepada diri kita. Kehidupan ini seperti membalaskan dendamnya, karena dulu kita terlalu lembut kepada diri sendiri. Susah mencari kerja, kekurangan uang, banting tulang peras keringat, penyakit beragam menggerogoti tubuh, adalah fenomena yang banyak ditemui di sekeliling kita, bahkan bisa saja diri kita sendiri. Kehidupan menjadi begitu keras, melelahkan, membosankan, karena dulu, kita tidak bersikap keras terhadap diri sendiri.

Jumat, 28 Desember 2007

Menghadapi si Tukang Fitnah dan si Sombong

Pelajaran dari Amarah si Tukang Parkir

Seorang tukang parkir marah-marah karena kesalahan kami memarkir kendaraan tidak pada tempatnya. Setelah mengalihkan lokasi parkir, saya berjalan sambil menggerutu, "Alah, apa pula tukang parkir itu marah-marah, macam tidak pernah saja dia berbuat salah". Lalu dengan ringan rekan saya S2 "Izal" nyeletuk, "Biarlah, cuma itu yang bisa dibanggakannya dalam hidupnya, yang lain dia tak bisa. Lagi pula memang kita yang salah".

Setelah kejadian tersebut, saya kembali teringat dengan sebagian dari ucapan rekan tersebut, "Biarlah, cuma itu yang bisa dibanggakannya dalam hidupnya, yang lain dia tak bisa". Saya berpikir, ini adalah kata-kata ampuh sebagai jurus untuk meredam amarah atau berprasangka negatif kepada orang lain.

Kata-kata tersebut adalah senjata psikologis yang cukup ampuh untuk menghadapi orang-orang negatif, misalnya menghadapi orang yang suka memfitnah, orang yang sombong, orang yang suka menzalimi diri kita, dan kategori orang-orang yang berkepribadian negatif lainnya.


Menghadapi si Tukang Fitnah

Pernahkah Anda difitnah oleh seseorang, atau digosipkan macam-macam?. Misalnya di dalam lingkungan pergaulan di kampus atau di dunia kerja, atau dimana saja. Terlalu sering?

Rekan saya yang juga berprofesi mengajar, adalah seorang laki-laki cukup ganteng, sebut saja Eman, Eman pernah berdua bersama adiknya seorang gadis yang manis di dalam mobil miliknya menuju ke tempat yang mereka tuju. Bagi orang yang tahu, tentu tidak ada masalah, karena di dalam mobil adalah adiknya sendiri. Ketika itu, kebetulan rekan sesama profesi melihat mereka berdua, dan kemudian berlalu entah kemana.Beberapa hari kemudian, beredarlah gosip bahwa Eman membawa mahasiswa berdua bersama mahasiswa di dalam mobilnya, dengan kata lain "dosen menggandeng mahasiswa".

Bagaimana sikap kita jika menghadapi hal tersebut? Perlukah kita mencak-mencak, mendatangi si tukang fitnah, dan berbaku hantam dengannya, atau memuntahkan emosi yang meluap-luap kepadanya di hadapan orang banyak? Bisa saja hal itu dilakukan, tapi predikat kita kurang lebih sama dengan si tukang fitnah, kita adalah "si pemarah", atau dibilang orang ”preman”.

Lalu bagaimana, jika ada orang lain yang menyampaikan cerita fitnah tentang diri kita kepada kita sendiri? Cukup sederhana, katakan saja, "Saya tidak berbuat buruk, di dalam mobil itu adalah adik saya, sama seperti Anda dan orang lain, yang mungkin juga memiliki seorang adik gadis. Itu semua adalah fitnah, tapi biarlah, Tuhan yang tahu, dan biarkanlah, mungkin cuma itu yang bisa dilakukan dan dibanggakannya dalam hidupnya, mungkin dia tak bisa melakukan hal lain".


Menghadapi Orang Sombong

Kita mungkin pernah menghadapi orang yang sombong, angkuh, atau tinggi hati menceritakan segala kelebihan dirinya dengan berapi-api. Bagi kita manusia biasa, bisa saja reaksi yang timbul adalah reaksi negatif, membumihanguskan ucapannya dengan berkata, "Wah, aku juga pernah melakukan lebih dari yang Anda lakukan".

Hasilnya komunikasi akan terputus, dia tersinggung, minder, dan komunikasi jadi terputus. Padahal mungkin saja banyak hal akan bisa diperoleh dari dirinya jika pembicaraan terus berlanjut.

Bisa juga reaksi negatif yang timbul menceritakan kesombongan orang tersebut kepada rekan lainnya, hasilnya "gosip", justru kita bertindak tidak bermanfaat yakni menceritakan kejelekan orang lain, dampaknya orang lain tersebut akan membenci, menjauhi, rekan yang kita anggap sombong tadi.

Jika begitu yang dilakukan, artinya kita tidak lebih baik dibanding orang sombong tersebut, predikatnya masih selevel, satu "si sombong", dan kita sendiri "si tukang gosip".

Lalu bagaimana yang baik? Agar emosi mereda, ucapkan saja dalam hati, "Biarlah, cuma itu yang mungkin bisa dibanggakannya dan dikerjakannya dalam hidupnya, mungkin saja tak ada hal lain yang bisa dia lakukan".


Lalu Bagaimana?
Senjata psikologis di atas "Biarlah, cuma itu yang mungkin bisa dibanggakannya dan dikerjakannya dalam hidupnya, mungkin saja tak ada hal lain yang bisa dia lakukan", perlu disampaikan kepada setiap orang, atau bahasa formilnya "disosialisasikan".

Ucapkan ketika kita tidak puas terhadap seseorang, ucapkan ketika kita menghadapi orang-orang yang negatif, ucapkan ketika ada orang yang menyampaikan hal-hal negatif. Ucapkan, ucapkan setiap saat, baik di dalam hati, atau dilisankan (lihat kondisi). Ucapkan berulang-ulang di setiap kesempatan, dimana saja, kapan saja, kepada siapa saja, jika kita mulai mencium aroma negatif di lingkungan kita.

Rabu, 19 Desember 2007

Jangan Takut Berkreasi

Kadang-kadang kita memiliki keinginan untuk berbuat sesuatu, apapun sesuatu itu. Tetapi selalu muncul di dalam pikiran sendiri kalau-kalau sesuatu yang akan kita buat akan ditertawakan orang lain, dilecehkan, dihina, dikatakan jelek, tidak berkualitas, dan pikiran negatif lainnya. Biarkan saja, kalaupun ada orang yang berperilaku seperti itu terhadap diri kita, semua adalah hal yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi umumnya mereka yang mencerca, sebenarnya tidak bisa berbuat banyak, bahkan tidak bisa berbuat seperti yang kita lakukan. Selalu terjadi, seseorang dihina karena bermaksud melakukan sesuatu yang positif, tetapi ketika orang tersebut sukses dengan karya yang dilakukannya, banyak orang lain berdecak kagum. Mungkin saja orang yang menghina tadi tetap juga akan menghina, "ah...dia kan bisa begitu, karena si anu..". Memang selalu begitu, orang-orang yang berpikiran negatif tidak pernah mau kalah, tetapi kalau mau dilihat ke belakang, ia bahkan tak mampu berbuat apa-apa. Orang-orang besar di dunia, seperti Thomas Alpha Edison Sang penemu listrik, bermula dari coba-coba. Tentu saja coba-coba yang dilakukannya adalah sebuah proses berpikir. Ia berpikir, ia mencoba, berulang-ulang gagal, dan akhirnya menemukan listrik yang sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia (baca kisahnya). Orang-orang sukses lainnya memiliki perjalanan yang sama, mencoba, gagal, ditertawakan, coba lagi, dan akhirnya sukses.

Kita juga perlu seperti itu, ketika muncul ide dan pikiran positif di dalam otak, dan sepertinya ide tersebut perlu dilakukan, maka lakukanlah. Jangan takut salah dan jangan takut gagal. Sesuatu yang dilakukan dengan serius, berulang-ulang, selalu membuahkan hasil cemerlang. Coba pikirkan sesuatu, cari informasi tentang hal tersebut, enath dari buku, majalah, internet, dan lain-lain. Lalu coba buat.


Belajar Berbagi

Salah satu yang menarik dari sekian banyak yang menarik berkaitan dengan internet, adalah PRINSIP BERBAGI untuk sesama. Kita bisa lihat di situs-situs web yang bertebaran banyaknya, cukup banyak orang-orang di dunia ini yang sebenarnya memiliki niat mulia untuk berbagi sesuatu yang mereka miliki kepada orang lain. Melalui situs yang mereka bangun, blog, mailing list, dan sebagainya, ratusan bahkan ribuan orang men-sharing ide, pemikiran, ilmu yang mereka miliki, software, buku, artikel, dan hal-hal lain dibagi secara gratis untuk orang lain. Luar biasa sekali.

Sebagian orang di dunia ini, menganggap bahwa apabila kita membagi sesuatu yang kita miliki kepada orang lain, kita harus mendapatkan imbalan yang lebih dari orang lain, imbalan uang. Sebagian lagi berprinsip, untuk apa berbagi kepada orang lain, nanti orang lain yang akan menikmati hasil yang kita bagi, mereka bahkan tidak ingat sedikitpun kepada sang pemberi. Bagusnya di dunia internet, prinsip sebagian orang tersebut tidak berlaku. Orang memberi dan berbagi tanpa mengharap imbalan apapun. Mereka tidak berharap uang, tidak berharap apakah orang yang diberi tersebut akan mengucapkan terima kasih atau tidak, ingat atau tidak kepada si pemberi, semuanya tidak ingin imbalan, semuanya gratis. Alangkah indahnya ketika hal semacam ini juga ada di dunia nyata, bukan hanya di dunia maya (internet). Seorang mahasiswa yang memiliki kemampuan lebih memberi ilmunya kepada mahasiswa lain. Seorang dosen yang jago dan ahli di bidang tertentu, tanpa sungkan-sungkan berbagi kepada dosen lain dan mahasiswa. Orang kaya berbagi sebahagian hartanya kepada orang yang membutuhkan. Orang yang berbahagia berbagi kebahagiaan kepada mereka yang bersedih hati. Namun memang, dunia nyata masih kalah dengan dunia maya. Orang yang berlebih harta takut kalau hartanya berkurang jika diberikan kepada orang miskin. Orang yang berilmu takut, jangan-jangan kalau ilmunya diberikan kepada orang lain, dia tidak lagi dianggap hebat. Seorang atasan takut memberi senyum dan keramahan kepada bawahan, karena nanti bawahan tidak lagi takut dan segan kepadanya. Mungkin ada salahnya pendapat tersebut. Justru sebaliknya, biasanya orang yang suka membagi hartanya kepada orang lain, di saat lain dia akan memperoleh ganti yang berlipat-lipat, bukan dari orang yang diberi, tapi justru dari orang lain. Orang yang suka berbagi ilmu dan pengetahuan, justru ilmu dan pengetahuannya semakin menjadi-jadi, semakin banyak ilmu dan pengetahuan baru yang ia peroleh. Atasan yang suka tersenyum dan ramah kepada bawahan, bahkan selalu disenangi, dihormati, disanjung, menjadi pembicaraan di sesama bawahan dengan pembicaraan yang penuh pujian, dan menolongnya ketika atasan tersebut mengalami kesusahan.


 
Copyright © 2014 Azuar Juliandi. Designed by OddThemes